Anemia biasanya dikenal orang awam dengan sebutan
kurang darah. Zat besi adalah salah satu unsur gizi yang merupakan komponen
pembentuk Hemoglobin (Hb) atau biasa disebut sel darah merah. Oleh karena itu
disebut Anemia Gizi Besi.
Anemia gizi besi ini muncul diakibatkan oleh tidak adanya cadangan zat besi dalam
tubuh sehingga cadangan zat besi untuk eritropoesis (proses pembentukan eritrosit yang terjadi di sumsum tulang) berkurang yang sehingga kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah kurang.
Anemia gizi besi ini biasanya ditandai dengan turunnya kadar Hb total di
bawah nilai normal. Biasany anda-tanda
ini bisa menggangu metabolisme energi sehingga dapat menurunkan produktivitas. Anemia
gizi besi biasanya disebabkan oleh kurangnya konsumsi makanan yang mengandung
zat besi, menderita penyakit ganguan pencernaan sehingga mengganggu penyerapan
zat besi, luka yang menyebabkan pendarahan besar, persalinan, menstruasi, atau
cacingan.
Kurangnya konsumsi makanan yang mengandung zat besi,
merupakan salah satu penyebab terjadinyan anemia. Bahan makanan yangb tinggi
mengandung zat besi adalah hati dan daging, terdapat juga pada sayuran hijau,
kacang-kacangan dan olahannya.
Selain dari konsumsi makanan yang mengandung zat besi,
perlu diperhatikan juga faktor-faktor
lain yang mempengaruhi absorpsi zat besi, antara lain macam-macam bahan makanan
itu sendiri dan konsumsi teh yang berlebihan. Zat besi yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan, jumlah yang dapat diabsorpsi hanya sekitar 1-6 %, sedangkan
zat besi yang berasal dari hewani 7-22 %. Didalam campuran susunan makanan,
adanya bahan makanan hewani dapat meninggikan absorpsi zat besi yang berasal
dari tumbuh-tumbuhan. Faktor ini mempunyai arti penting dalam menghitung jumlah
zat besi yang dikonsumsi oleh masyarakat yang tak mampu, yang jarang
mengkonsumsi bahan makanan hewani. Zat tanin yang terkandung dalam teh dapat menghambat
penyerapanb zat besi dalam tubuh, kemudian zat-zat antioksidan seperti polifenol di dalam teh hijau
bisa mengikat zat besi, menghambat penyerapan zat tersebut di dalam pencernaan.
Zat Besi Dalam Bahan Makanan
No.
|
Bahan Makanan
|
Zat Besi (mg/100 g)
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
|
Hati
Daging Sapi
Ikan
Telur Ayam
Kacang-kacangan
Tepung Gandum
Sayuran Hijau Daun
Umbi-umbian
Buah-buahan
Beras
Susu Sapi
|
6,0 sampai 14,0
2,0 sampai 4,3
0,5 sampai 1,0
2,0 sampai 3,0
1,9 sampai 14,0
1,5 sampai 7,0
0,4 sampai 18,0
0,3 sampai 2,0
0,2 Sampai 4,0
0,5 sampai 0,8
0,1 sampai 0,4
|
Sumber :
Davidson, dkk, 1973 dalam Husaini,
1989
Zat besi
didalam bahan makanan dapat berbentuk hem yaitu berikatan dengan protein atau
dalam bentuk nonhem yaitu senyawa besi organic yang kompleks. Ketersediaan zat
besi untuk tubuh kita dapat dibedakan antara hem dan nonhem ini. Zat besi hem
berasal dari hemoglobin dan mioglobin yang hanya terdapat dalam bahan makanan
hewani, yang dapat diabsorpsi secara langsung dalam bentuk kompleks zar besi
phorphyrin (“iron phorphyrin kompleks”). Jumlah zat besi hem yang diabsorpsi
lebih tinggi daripada nonhem. Untuk seseorang yang cadangan zat besi dalam
tubuhnya rendah, zat besi hem ini dapat diabsorpsi lebih dari 35 %, sedangkan
buat orang yang simpanan zat besinya cukup banyak (lebih dari 500 gram) maka
absorpsi zat besi hem ini hanya kurang lebih 25 %. Dari hasil analisa bahan
makanan didapatkan bahwa sebanyak 30 – 40 % zat besi didalam hati dan ikan,
serta 50-60 % zat besi dalam daging sapi, kambing, dan ayam adalah dalam bentuk
hem. (Cook, dkk dalam Husaini, 1989).
Zat besi nonhem
pada umumnya terdapat didalam bahan makanan yang umumnya berasal dari
tumbuh-tumbuhan seperti sayur-sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan,
buah-buahan dan serealia, dan dalam jumlah yang sedikit daging, ikan dan telur.
Zat besi nonhem didalam bentuk kompleks inorganic Fe3+ dipecah pada waktu percernaan berlangsung dan
sebagian dirubah dari Fe3+ menjadi Fe2+ yang lebih siap diabsorpsi. Konversi Fe3+ menjadi Fe2+ dipermudah
oleh adanya faktor endogenus seperti HCl dalam cairan sekresi gastric, komponen
zat gizi yang berasal dari makanan seperti vitamin C, atau daging, atau ikan.
Zat gizi yang telah dikenal luas dan sangat berperanan
dalam meningkatkan absorpsi zat besi adalah vitamin C. Vitamin C dapat
meningkatkan absorpsi zat besi nonhem sampai empat kali lipat. Vitamin C dengan
zat besi mempunyai senyawa ascorbat besi kompleks yang larut dan mudah
diabsorpsi, karena itu sayur-sayuran segar dan buah-buahan yang mengandung
banyak vitamin C baik dimakan untuk mencegah anemia .
Selain faktor
yang meningkatkan absorpsi zat besi seperti yang telah disebutkan, ada pula
faktor yang menghambat absorpsi zat besi. Faktor-faktor yang menghambat itu
adalah tannin dalam the, phosvitin dalam kuning telur, protein kedelai, phytat,
fosfat, kalsium, dan serat dalam bahan makanan (Monsen and Cook dalamHusaini, 1989). Zat-zat gizi ini dengan zat besi
membentuk senyawa yang tak larut dalam air, sehingga lebih sulit diabsorpsi.
Seseorang yang banyak makan nasi, tetapi kurang makan sayur-sayuran serta
buah-buahan dan lauk-pauk, akan dapat menjadi anemia walaupun zat besi yang
dikonsumsi dari makanan sehari-hari cukup banyak. Kecukupan konsumsi zat besi
Nasional yang dianjurkan untuk anak balita berumur 1-3 tahun adalah 8 mg,
sedangkan untuk anak balita berumur 4-6 tahun adalah 9 mg (Widya Karya Nasional
Pangan dan Gizi, 2003)
Gejala anemia defisiensi dapat digolongkan menjadi 3
golongan besar berikut ini
a. Gejala Umum Anemia
Gejala umum anemia yang disebut juga sebagai sindrom
anemia dijumpai pada anemia defisiensi jika kadar hemoglobin turun dibawah
7-8g/dl. Gejala ini berupa badan lemah, lesu, cepat lelah, mata
berkunang-kunang, serta telinga mendenging.
b. Gejala khas akibat defisiensi besi
Gejala yang khas dijumpai pada difisiensi besi yang
tidak dijumpai pada anemia jenis lain adalah sebagai berikut.
·
Koilorikia : kuku sendok (spoon nail) kuku menjadi
rapuh, bergaris-garis vertical,
dan menjadi cekung sehingga mirip seperti
sendok.
·
Atrofi papila lidah : permukaan lidah menjadi licin
dan mengkilap karena papil
lidah menghilang.
·
Stomatitis angularis : adanya peradangan pada sudut
mulut, sehingga tampak
sebagai bercak
berwarna pucat keputihan.
·
Disfagia : nyeri menelan karena kerusakan epitel
hipofaring.
·
Atropi mukosa gaster sehingga menimbulkan aklorida.
c. Gejala penyakit dasar
Pada anemia defisiensi besi dapat dijumpai
gejala-gejala penyakit yang menjadi penyebab anemia defisiensi. Misalnya pada
anemia akibat penyakit cacing tambang dijumpai dyspepsia, parotis membengkak,
dan kulit telapak tangan berwarna kuning.
DAMPAK
Anemia Gizi Besi
Anak-anak :
1. Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar.
2. Menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan otak.
3. Meningkatkan risiko menderita penyakit infeksi karena daya tahan tubuh
menurun.
Wanita :
1. Anemia akan menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah sakit.
2. Menurunkan produktivitas kerja.
3. Menurunkan kebugaran.
Remaja putri :
1. Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar.
2. Mengganggu pertumbuhan sehingga tinggi badan tidak mencapai optimal.
3. Menurunkan kemampuan fisik olahragawati.
4. Mengakibatkan muka pucat.
Ibu hamil :
1. Menimbulkan perdarahan sebelum atau saat persalinan.
2. Meningkatkan risiko melahirkan Bayi dengan Berat Lahir Rendah atau BBLR
(<2,5 kg).
3. Pada anemia berat, bahkan dapat menyebabkan kematian ibu dan/atau bayinya.
0 komentar:
Posting Komentar